Di suatu taman yang sudah lama tak
terawat, terdapat tanaman yang tak bisa mati kata orang-orang. Tanaman yang masih
setengah tumbuh telah di injak-injak oleh banyak orang jahat. Karena orang-orang
tak ingin melihatnya berada disana. Tidak lama kemudian, ada orang
baik yang berkunjung ke taman tersebut. Ia menemukan tanaman kecil yang masih tetap tumbuh. Ia pun heran mengapa tanaman itu tak
mati ketika orang-orang telah mencoba merusaknya?
Ia lalu menatap tanaman tersebut
dengan jeli, bahkan dipikirannya tanaman ini masih bisa tumbuh dengan sempurna.
Lalu ia memindahkan tanaman itu ke wadah seadanya dan membawanya pulang. Bahkan
ia mengatakan kalau ia ingin merawatnya. Sesampainya dirumah orang baik itu,
tanaman tersebut pun ditaruhnya di wadah yang sesungguhnya.
Si orang baik mulai merawat tanaman
itu. Sesekali ia menebarkan bibit-bibit ke tanaman itu. Ketika cuaca sedang baik-baiknya
tanaman tersebut menumbuhkan sedikit demi sedikit akarnya hingga batangnya. Perlahan-lahan
mulai memunculkan dedaunan. Orang baik itu selalu menyiramnya bahkan diajaknya berbicara.
“Aku berjanji akan menjagamu dan merawatmu hingga kamu memunculkan bunga
yang mekar”, kata orang baik itu sembari memegang dedaunan dari tanaman
itu.
Entah kenapa, si orang baik itu
tiba-tiba pergi. Ia bahkan lupa untuk menyiram tanaman itu diesokan harinya. Hari
demi hari, minggu demi minggu, ia tak kunjung kembali juga. Ia bahkan lupa
kalau ia mau menemaninya tumbuh bermekaran. Lambat laun tanaman itu daun-daunnya
mulai berguguran, batangnya pun ikut rapuh. Tanaman yang tadinya hampir tumbuh
dengan sempurna tiba-tiba patah lagi.
Tanaman itu masih tumbuh walau tanaman
itu makin hari makin layu. Tapi, wadahnya masih lembab menyisakan sisa air pada
tanah yang menempel di akarnya. Tanaman itu masih bisa tumbuh jikalau si orang
baik itu masih ingin kembali merawatnya hingga bermekaran seperti apa yang ia
ucapkan ketika menemukan tanaman tersebut disaat orang-orang hanya mau
menyingkirkannya. Tetapi, jika ia tak mengingat bahwa ada hal yang tak ingin ia
tinggalkan, berarti tanaman itu ia biarkan layu semakin layu, mengering, rusak,
lalu mati.