Thursday, June 18, 2020

Kebingungan yang Tak Tahu Akhirnya


Sebelum aku lupa akan isi pikiranku yang ingin berceloteh, lebih baik aku menuangkannya disini…

Aku kini kembali dengan sejuta kebingungan ku terhadapmu, terhadapku, terhadap kita. Sampai saat ini, aku masih tidak mengerti kenapa aku masih tetap disini padahal aku tau akhirnya akan seperti apa. Berkali-kali aku didustaimu, lalu kamu meminta maaf seolah itu hanya kesalahan kecil yang kamu perbuat, lalu memintaku untuk memberimu kesempatan untuk mempercayaimu sekali lagi, lagi, lagi, dan lagi. Entah sampai kapan akan harus begini.

Aku bingung. Sakit. Kecewa. Aku seperti kehilangan diriku sendiri.

Setiap kali aku meminta untuk pamit dari kehidupanmu, seolah kau tak ingin hal itu terjadi. Kau memintaku untuk tetap berada didekatmu, tetapi nyatanya kau lebih memilih bersama orang lain. Jadi, sebenarnya aku ini siapa? Apa yang kamu takutkan ketika aku sudah tak sedikit pun hadir dalam hidupmu lagi? Apa yang akan kamu sesali ketika aku sudah terhapuskan dalam cerita hidupmu? Mengapa kau masih bersih keras ingin memiliki ku namun hatimu masih kau bagi dengan orang lain? Tidakkah kau anggap dirimu begitu egois? Apakah cintamu yang menginginkanku ataukah hanya egomu saja?

Ah.. sejuta pertanyaan mengelilingi pikiranku tiap saat.

Bingung..

Bingung terhadap perasaan tulusmu atau perasaan egomu. Ah, terserah kamu menamainya.

Yang paling aku tidak mengerti lagi, ketika aku memberitahumu hal baru yang membuat kita jadi asyik meluangkan waktu bersama. Hal-hal seru yang kita bagi bersama. Ternyata kamu juga melakukan hal itu kepada orang yang kau anggap itu. Sakit? Ya. Aku hanya berpura-pura bersikap biasa saja agar bisa membuat mu tetap semangat menjalani hari-harimu dengan sikap riangmu. Bodoh ya aku? Bertopeng ya? Ah, itu bukan masalah bagiku. Selama kamu bahagia, aku sudah merasa cukup.

Yang paling membingungkan lagi, ketika kamu bersamanya, aku dilupakanmu. Seperti kita ini memang tidak ada apa-apa. Namun tiba-tiba kamu mencariku. “Aku rindu padamu”, katamu. Mengatakan kalau sebenarnya aku yang harusnya ada disampingmu. Aku sih merasa kamu hanya berusaha membuatku tenang. Nyatanya tidak seperti itu. Tapi, ketika kamu sedang bersamaku, diam-diam kamu mencarinya juga. Mengatakan hal yang sama yang kamu katakan padaku. Ah aku tak tahu. Gelap.

Kadang aku merasa hanya dipermainkan olehmu, tapi kadang juga kau menampakkan perhatianmu dengan tulus. Ya, bingung. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Tiap kali aku bepura-pura baik-baik saja di depanmu, selalu saja gagal. Entah kamu mahir melihat gerak-gerikku atau aku yang tidak total dalam berakting? Aku sih kadang benci terhadap diriku, karena hal-hal sedih yang membuatku merasa lemah tidak ingin ku bagi denganmu. Justru kebahagiaan ku saja yang ku bagi denganmu tanpa tau sebenarnya yang ku rasakan sangatlah rapuh.

Aku takut..

Aku takut, aku hanyalah pengisi kekosonganmu semata ketika kamu tak bisa membagi waktumu dengannya. Aku merasa gagal. Gagal. Munafik. Bisa dibilang seperti itu. Seolah aku tak tahu menahu semua dustamu, padahal aku bisa tahu. Aku tahu, kamu menyembunyikan semua kebohonganmu hanya untuk membuatku tidak merasa kecewa terhadapmu. Namun, aku sudah tahu sebelum kamu menyembunyikan semua itu.

Aku sedih ketika aku merasa dibahagiakan olehmu dengan cara berbohong. Yang aku mau darimu hanyalah kejujuran. Walaupun kejujuran yang akan menghancurkanku sendiri, tidak masalah bagiku. Agar aku tahu memposisikan diriku, sebenarnya aku ini harusnya dimana. Andai kata kejujuran adalah sebuah benda, harganya sudah pasti mahal. Susah didapatkan. Bak barang langka yang di kejar-kejar semua orang.

Jikalau aku bisa tahu dari bibirmu sendiri...

Aku ini sebenarnya kau anggap apa?