Sebelum aku lupa akan isi pikiranku yang ingin
berceloteh, lebih baik aku menuangkannya disini…
Aku
kini kembali dengan sejuta kebingungan ku terhadapmu, terhadapku, terhadap
kita. Sampai saat ini, aku masih tidak mengerti kenapa aku masih tetap disini
padahal aku tau akhirnya akan seperti apa. Berkali-kali aku didustaimu, lalu kamu
meminta maaf seolah itu hanya kesalahan kecil yang kamu perbuat, lalu memintaku
untuk memberimu kesempatan untuk mempercayaimu sekali lagi, lagi, lagi, dan
lagi. Entah sampai kapan akan harus begini.
Aku
bingung. Sakit. Kecewa. Aku seperti kehilangan diriku sendiri.
Setiap
kali aku meminta untuk pamit dari kehidupanmu, seolah kau tak ingin hal itu
terjadi. Kau memintaku untuk tetap berada didekatmu, tetapi nyatanya kau lebih
memilih bersama orang lain. Jadi, sebenarnya aku ini siapa? Apa yang kamu
takutkan ketika aku sudah tak sedikit pun hadir dalam hidupmu lagi? Apa yang
akan kamu sesali ketika aku sudah terhapuskan dalam cerita hidupmu? Mengapa kau
masih bersih keras ingin memiliki ku namun hatimu masih kau bagi dengan orang
lain? Tidakkah kau anggap dirimu begitu egois? Apakah cintamu yang
menginginkanku ataukah hanya egomu saja?
Ah..
sejuta pertanyaan mengelilingi pikiranku tiap saat.
Bingung..
Bingung
terhadap perasaan tulusmu atau perasaan egomu. Ah, terserah kamu menamainya.
Yang
paling aku tidak mengerti lagi, ketika aku memberitahumu hal baru yang membuat
kita jadi asyik meluangkan waktu bersama. Hal-hal seru yang kita bagi bersama.
Ternyata kamu juga melakukan hal itu kepada orang yang kau anggap itu. Sakit?
Ya. Aku hanya berpura-pura bersikap biasa saja agar bisa membuat mu tetap semangat menjalani hari-harimu dengan sikap riangmu. Bodoh ya aku? Bertopeng ya? Ah, itu
bukan masalah bagiku. Selama kamu bahagia, aku sudah merasa cukup.
Yang
paling membingungkan lagi, ketika kamu bersamanya, aku dilupakanmu. Seperti
kita ini memang tidak ada apa-apa. Namun tiba-tiba kamu mencariku. “Aku rindu
padamu”, katamu. Mengatakan kalau sebenarnya aku yang harusnya ada
disampingmu. Aku sih merasa kamu hanya berusaha membuatku tenang. Nyatanya
tidak seperti itu. Tapi, ketika kamu sedang bersamaku, diam-diam kamu
mencarinya juga. Mengatakan hal yang sama yang kamu katakan padaku. Ah aku tak tahu. Gelap.
Kadang
aku merasa hanya dipermainkan olehmu, tapi kadang juga kau menampakkan
perhatianmu dengan tulus. Ya, bingung. Seperti yang sudah aku katakan
sebelumnya. Tiap kali aku bepura-pura baik-baik saja di depanmu, selalu saja
gagal. Entah kamu mahir melihat gerak-gerikku atau aku yang tidak total dalam
berakting? Aku sih kadang benci terhadap diriku, karena hal-hal sedih yang
membuatku merasa lemah tidak ingin ku bagi denganmu. Justru kebahagiaan ku saja
yang ku bagi denganmu tanpa tau sebenarnya yang ku rasakan sangatlah rapuh.
Aku
takut..
Aku
takut, aku hanyalah pengisi kekosonganmu semata ketika kamu tak bisa membagi
waktumu dengannya. Aku merasa gagal. Gagal. Munafik. Bisa
dibilang seperti itu. Seolah aku tak tahu menahu semua dustamu, padahal aku
bisa tahu. Aku tahu, kamu menyembunyikan semua kebohonganmu hanya untuk
membuatku tidak merasa kecewa terhadapmu. Namun, aku sudah tahu sebelum kamu
menyembunyikan semua itu.
Aku
sedih ketika aku merasa dibahagiakan olehmu dengan cara berbohong. Yang aku mau
darimu hanyalah kejujuran. Walaupun kejujuran yang akan menghancurkanku
sendiri, tidak masalah bagiku. Agar aku tahu memposisikan diriku, sebenarnya
aku ini harusnya dimana. Andai kata kejujuran adalah sebuah benda, harganya sudah
pasti mahal. Susah didapatkan. Bak barang langka yang di kejar-kejar semua
orang.
Jikalau
aku bisa tahu dari bibirmu sendiri...
Aku ini sebenarnya kau anggap apa?


