Thursday, January 24, 2019

Mirisnya perokok pasif





Dalam tulisan ini, saya akan membahas tentang perokok aktif yang ada di sekeliling saya beserta dampak yang ditimbulkannya. Terutama dampaknya kepada diri saya sendiri.

Dari tahun ke tahun, jumlah perokok semakin bertambah populasinya. Dikutip dari http://jogja.tribunnews.com/2018/04/17/perokok-aktif-di-indonesia-capai-60-juta-orang-70-persennya-warga-miskin-dan-anak-anak?page=2 yang mengatakan “Dari jumlah tersebut, kebanyakan perokok aktif berasal dari kalangan anak-anak usia 10 sampai 18 tahun. Jumlah perokok anak-anak dan remaja ini bahkan mengalami kenaikan 8,8 persen pada tahun 2016, dan semakin bertambah tiap tahunnya”.

Banyaknya jumlah perokok di Indonesia sendiri mungkin dikarenakan harga rokok yang terbilang murah dan kurangnya larangan merokok di tempat-tempat umum.

Saya sendiri hidup di lingkungan yang dimana akan selalu saya jumpai perokok. Tidak mengenal usia, dari orang tua, dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Mulai dari saya berusia balita hingga sekarang. Perokok yang akan saya jumpai tak kenal waktu dan di tempat manapun. Mulai dari tempat tinggal sendiri, sekolah, kampus, markas UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), bahkan cafe-cafe yang saya kunjungi, ataupun tempat umum lainnya.

Tiba pada waktu itu, saya kerap berkumpul sama teman-teman lalu bercengkrama seperti biasanya. Ada yang menyalakan api lalu membakar sebatang kertas yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah atau cengkeh, kemudian menghisapnya dan mengeluarkan asap entah dari mulut bahkan dari hidungnya. Lalu, saya perlahan menjauh dan menutup hidung tanpa menegur sedikitpun dan ia pun berkata "hmmm.. Lebay deh". Disamping itu, saya mengelus dada dan berkata dalam hati "Saya rasa hal ini tidak bisa dikatakan lebay, karena memang tidak bisa memaksakan diri untuk bersikap biasa saja tapi nyatanya menyiksa di dada dan juga menghindari hal yang bisa menambah penyakit itu sendiri".

Saya tidak tau harus berbuat apa lagi selain menjauh dari asap yang dikeluarkannya. Saya benar-benar tidak sanggup. Daripada menegur, ya buat saya lebih baik menghindar sendiri kan? Bahkan sekali menghirupnya, paru-paru serasa ada yang ganjal. "Pasif aja begini, gimana yang aktif? Atau lebih parah pasif atau aktif?", Tanyaku ketika melihat mereka yang bersikap biasa saja ketika menghisap benda tersebut.

Hampir 3 tahun napas saya tak begitu normal berjalan seperti biasanya. Saya begitu sedih. Napas yang pendek, lalu bengek atau sesak di dada, dada selalu terasa tidak enak. Pernah menjalani perawatan 6 bulan di salah satu RS dan klinik yang dekat dari tempat tinggal saya. Batuk yang tak kunjung sembuh dan kurang lebih 6 bulan lamanya itu harus bolak balik check-up, selama segala macam obat dikonsumsi, hingga di rawat inap dan melakukan nebulizer biar napasnya normal, menggunakan inhaler hisap, dan beberapa suntikan lainnya. Saya mesti membawa inhaler ke kampus pada waktu itu, karena ketika dada saya sesak alat itu yang akan meredahkannya.

Dalam lingkup sendiri, ya, rumah yang menjadi tempat saya hidup selama 21 tahun 4 bulan ini. Saya tiap hari juga menghirup asap itu. Mulai dari kepala keluarga dirumah ini, sanak saudara, tetangga, bahkan tamu-tamu yang kerap mengunjungi rumah. Ketika rekan-rekan bapak saya berada di ruang tamu juga terdapat asap-asap yang turut andil ketika mereka bercengkrama, tentu asapnya juga bisa masuk ke kamar saya. Kebetulan kamar saya tepat di dekat ruang tamu tersebut. Entah kenapa, hidung saya begitu peka mencium bebauan asap. Tentu tidak sengaja menghirupnya dan ketika terhirup, saya buru-buru menutup pintu kamar atau kalau tidak, saya keluar rumah menghirup udara segar.

Suatu waktu, ketika saya lagi menikmati makan malam di depan tv. Tepat disamping saya, bapak yang sedang memainkan handphone di genggamnya sambil menghisap gulungan tembakau itu. Lalu, makanan yang saya nikmati tidak begitu lahap karena dada serasa sesak dan saya pun menegurnya "pak, asapnya. Mungkin diluar lebih baik". Tak lama ia merespon "ah, kamu ini. Memangnya kamu langsung mati apa?"

Lagi dan lagi.

Yap. Ini memang bukan salah kalian. Ini salah saya, mungkin.

Sebagai perokok pasif, harus menerima bantahan, bully-an, bahkan harus bersikap biasa saja. Tetapi pernapasan ini menerimanya tidak biasa saja. Mungkin sebagian orang mengatakan kalau ini hanya cerita fiktif. Namun sayangnya tidak demikian. Kalian bisa bertanya langsung dengan orang-orang yang seperti saya yang mengidap infeksi saluran pernapasan yang ketika menghirup asap, asap apapun itu, napas menjadi pendek dan tidak normal.

Mungkin anggapan mereka diluar sana penyakit ini biasa saja. Tapi saya rasa tidak. Karena untuk bernapaspun susah ketika menghirup asap dari gulungan tembakau itu walaupun saya tidak menghisapnya. Bernapas sih iya, tapi yang ada napas pendek dan jantung berasa di pompa.

Untungnya pada waktu itu saya buru-buru periksa ke dokter dan cepat ditangani. Kalau tidak, saya bisa saja mengalami hal yang lebih parah dari itu. Tetapi, penyakit ini tidak sembuh total hingga sekarang karena katanya memang sudah melekat dan bisa saja kambuh. Sayangnya juga saya masih merasakan sesak ketika menghirup asap dari gulungan kertas yang berisi tembakau itu.


Sekian,

Big hug from me.


No comments:

Post a Comment