Dalam tulisan ini,
saya akan membahas tentang perokok aktif yang ada di sekeliling saya beserta
dampak yang ditimbulkannya. Terutama dampaknya kepada diri saya sendiri.
Dari tahun ke tahun, jumlah
perokok semakin bertambah populasinya. Dikutip dari http://jogja.tribunnews.com/2018/04/17/perokok-aktif-di-indonesia-capai-60-juta-orang-70-persennya-warga-miskin-dan-anak-anak?page=2
yang mengatakan “Dari jumlah tersebut, kebanyakan perokok aktif berasal dari
kalangan anak-anak usia 10 sampai 18 tahun. Jumlah perokok anak-anak dan
remaja ini bahkan mengalami kenaikan 8,8 persen pada tahun 2016, dan semakin
bertambah tiap tahunnya”.
Banyaknya jumlah perokok
di Indonesia sendiri mungkin dikarenakan harga rokok yang terbilang murah dan kurangnya
larangan merokok di tempat-tempat umum.
Saya sendiri hidup di lingkungan yang dimana akan selalu
saya jumpai perokok. Tidak mengenal usia, dari orang tua, dewasa, remaja,
bahkan anak-anak. Mulai dari saya berusia balita hingga sekarang. Perokok yang
akan saya jumpai tak kenal waktu dan di tempat manapun. Mulai dari tempat
tinggal sendiri, sekolah, kampus, markas UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), bahkan
cafe-cafe yang saya kunjungi, ataupun tempat umum lainnya.
Tiba pada waktu itu,
saya kerap berkumpul sama teman-teman lalu bercengkrama seperti biasanya. Ada
yang menyalakan api lalu membakar sebatang kertas yang berisi daun-daun
tembakau yang telah dicacah atau cengkeh, kemudian menghisapnya dan
mengeluarkan asap entah dari mulut bahkan dari hidungnya. Lalu, saya perlahan
menjauh dan menutup hidung tanpa menegur sedikitpun dan ia pun berkata "hmmm..
Lebay deh". Disamping itu, saya mengelus dada dan berkata dalam hati
"Saya rasa hal ini tidak bisa dikatakan lebay, karena memang tidak bisa
memaksakan diri untuk bersikap biasa saja tapi nyatanya menyiksa di dada dan
juga menghindari hal yang bisa menambah penyakit itu sendiri".
Saya tidak tau harus
berbuat apa lagi selain menjauh dari asap yang dikeluarkannya. Saya benar-benar
tidak sanggup. Daripada menegur, ya buat saya lebih baik menghindar sendiri
kan? Bahkan sekali menghirupnya, paru-paru serasa ada yang ganjal. "Pasif
aja begini, gimana yang aktif? Atau lebih parah pasif atau aktif?",
Tanyaku ketika melihat mereka yang bersikap biasa saja ketika menghisap benda
tersebut.
Hampir 3 tahun napas
saya tak begitu normal berjalan seperti biasanya. Saya begitu sedih. Napas yang
pendek, lalu bengek atau sesak di dada, dada selalu terasa tidak enak. Pernah
menjalani perawatan 6 bulan di salah satu RS dan klinik yang dekat dari tempat
tinggal saya. Batuk yang tak kunjung sembuh dan kurang lebih 6 bulan lamanya
itu harus bolak balik check-up, selama segala macam obat dikonsumsi, hingga di
rawat inap dan melakukan nebulizer biar napasnya normal, menggunakan inhaler
hisap, dan beberapa suntikan lainnya. Saya mesti membawa inhaler ke kampus pada
waktu itu, karena ketika dada saya sesak alat itu yang akan meredahkannya.
Dalam lingkup sendiri,
ya, rumah yang menjadi tempat saya hidup selama 21 tahun 4 bulan ini. Saya tiap
hari juga menghirup asap itu. Mulai dari kepala keluarga dirumah ini, sanak
saudara, tetangga, bahkan tamu-tamu yang kerap mengunjungi rumah. Ketika rekan-rekan bapak saya berada di
ruang tamu juga terdapat asap-asap yang turut andil ketika mereka bercengkrama,
tentu asapnya juga bisa masuk ke kamar saya. Kebetulan kamar saya tepat di
dekat ruang tamu tersebut. Entah kenapa, hidung saya begitu peka mencium
bebauan asap. Tentu tidak sengaja menghirupnya dan ketika terhirup, saya
buru-buru menutup pintu kamar atau kalau tidak, saya keluar rumah menghirup udara segar.
Suatu waktu, ketika
saya lagi menikmati makan malam di depan tv. Tepat disamping saya, bapak yang
sedang memainkan handphone di genggamnya sambil menghisap gulungan tembakau
itu. Lalu, makanan yang saya nikmati tidak begitu lahap karena dada serasa
sesak dan saya pun menegurnya "pak, asapnya. Mungkin diluar lebih
baik". Tak lama ia merespon "ah, kamu ini. Memangnya kamu langsung
mati apa?"
Lagi dan lagi.
Yap. Ini memang bukan
salah kalian. Ini salah saya, mungkin.
Sebagai perokok pasif,
harus menerima bantahan, bully-an, bahkan harus bersikap biasa saja. Tetapi
pernapasan ini menerimanya tidak biasa saja. Mungkin sebagian orang mengatakan
kalau ini hanya cerita fiktif. Namun sayangnya tidak demikian. Kalian bisa
bertanya langsung dengan orang-orang yang seperti saya yang mengidap infeksi
saluran pernapasan yang ketika menghirup asap, asap apapun itu, napas menjadi
pendek dan tidak normal.
Mungkin anggapan
mereka diluar sana penyakit ini biasa saja. Tapi saya rasa tidak. Karena untuk
bernapaspun susah ketika menghirup asap dari gulungan tembakau itu walaupun
saya tidak menghisapnya. Bernapas sih iya, tapi yang ada napas pendek dan
jantung berasa di pompa.
Untungnya pada waktu
itu saya buru-buru periksa ke dokter dan cepat ditangani. Kalau tidak, saya
bisa saja mengalami hal yang lebih parah dari itu. Tetapi, penyakit ini tidak
sembuh total hingga sekarang karena katanya memang sudah melekat dan bisa saja
kambuh. Sayangnya juga saya masih merasakan sesak ketika menghirup asap dari
gulungan kertas yang berisi tembakau itu.
Sila dibaca juga https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/berhenti-merokok__trashed/bahaya-asap-rokok-bagi-perokok-pasif/
Sekian,
Big hug from me.

No comments:
Post a Comment